Tuesday, January 3, 2017

Sosisalinguistik, Bilingualisme, Alih Kode

1. Pengertian Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan erat. (Chaer dan Agustina, 2010:2). Hubungan sosiologi dan linguistik berkaitan satu sama lain, saling mempengaruhi. Pemakaian bahsa itu tentu di pengaruhi beberapa aspek seperti jumlah, sikap, adat istiadat dan budaya.

Menurut Fishman (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:3) Sociolinguistic is the study of characteristics of their functions and the characteristics of their speakers as these three constantly interact,change and change one another within a speech community (= Sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa,dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah,dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur.) Ada pula pendapat lain tentang sosiolinguistik yang berhubungan dengan sosial dan kebudayaan yaitu menurut Apple, Hubert, Meijer (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:4) sosiolinguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan budaya.

Dari beberapa pendapat tersebut, pendapat yang digunakan untuk penelitian Alih Kode dan Campur Kode dalam FKIP Universitas Islam Kadiri Kadiri adalah pendapat dari Abdul Chaer & Leonie Agustina serta pendapat Fishman. Karena pendapat keduanyamenjelaskan bahwa bahasa itu memiliki hubungan dengan faktor-faktor sosial.

2. Bilingualisme
Istilah bilingualisme ( Inggris: Bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan.Secara sosiolinguistik, secara umum  bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian menurut Mackey dan Fishman (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:84).

Bilingualisme adalah kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya menurut Lado (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:86)

3. Alih Kode
Appel (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:106) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan bahasa karena berubahnya situasi. Berbeda dengan Hymes (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:86) menyatakan alih kode itu terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa.

Kalau di telusuri penyebab terjadinya alih kode itu, maka harus kita kembalikan kepada pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang dikemuakakan Fishman dalam (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:108) yaitu “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dengan tujuan apa”. Secara umunpenyebab alih kode itu disebutkan antara lain adalah (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan formal ke informal atau sebaliknya, (5) perubahan topic pembicaraan.


0 comments: