Thursday, December 22, 2016

Makna Kata Denotatif dan Konotatif


Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Assalamualaikum sobat Arum's blog,,

      Hari ini sedikit berbeda dengan postingan sebelumnya, tetapi tidak jauh berbeda karena masih seputar bahasa. Makna adalah unsur dari sebuah kata atau tepatnya sebagai gejala dalam ujaran. Maka dari itu, ada prinsip umum dalam semantic yang menyatakan bahwa kalau bentuk( maksudnya bentuk kata atau makna kata). Pateda (1986), misalnya, secara alfabetis telah mendaftarkan adanya 25 jenis makna, yaitu makna afektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekstensi, mkna emotif, makna gereflekter, makna idesional, makna intensi, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna pictorial, makna proposional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna stilistika, dan makna tematis.


        Perbedaan makna denotatif dan konotatif adalah pada ada atau tidak adanya “nilai rasa” (Slametmulyana, 1964) pada sebuah kata. Setiap kata mempunyai makna denotatif, tetapi tidak setiap kata meiliki makna konotatif. Sebuah kata dsebut mempunyai makna konotatif apabila memiliki “nilai rasa” baik positif maupun negatif,. Jika tidak memiliki rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi atau dapat disebut juga berkonotasi netral. Makna denotatif (serng diseut juga makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain) pada dasarnya sama dengan referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi. Jadi makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi factual objektif, maka makna denotatif disebut juga ‘makna sebenarnya’. Misalnya kata perempuan dan wanita mempunya denoasi yang sama, yaitu ‘manusia dewasa bukan laki-laki’. Walaupun kedua kata tersebut mempunyai denotasi yang sama namun mempunya rasa yang berbeda, ‘perempuan’ mempunyai rasa yang rendah sedangkan kata ‘wanita’ mempunya rasa yang tinggi. Perubahan rasa ini terjadi akibat pandangan masyarakat berdasarkan norma-norma atau nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Umpamanya kata wanita dan perempuan mengandung makna-makna sebagai berikut :


Wanita

perempuan

-     Berpendidikan lebih

-     Modern dalam segala hal (pakaian, sikap, dsb)

-     Kurang berperasaan keibuan

-     Malas ke dapur

-   pendidikan kurang

-   kurang modern dalam segala hal

(pakaian, sikap, dsb)

-   berperasaan keibuan

-   rajin ke dapur


Makna konotasi lebih ke arah yang negative, makna konotasi sebuah kata dapat berbeda dari satu kelompok masyarakat yang satu dengan kolompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kolompok masyarakat tersebut. Umpamanya kata babi, di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama islam, memilikasi konotasi negatif karena binatang babi menurut hokum islam adalah haram dan najis. Sebaliknya di daerah-daerah yang yang penduduknya mayoritas bukan islam, seperti di pulau bali atau pedalaman irian jaya, kata babi tidak berkonotasi negatif. Lain halnya kata laki dan bini dalam masyarakat melayu Jakarta tidak berkonotasi negative, tetapi dalam masyarakat intelek kini berkonotasi negatif. Adapun kata-kata dalam bahasa Indonesia yang digunakan untuk menggantikan kata-kata yang berkonotasi negative, seperti pramuniaga, tunanetra, tunawisma, buang air, dan sebagainya.


Terima kasih dan Semoga Bermanfaat... 

0 comments:

Post a Comment