Thursday, December 22, 2016

Makna Referensial dan Makna Nonreferensial

Assalamualaikum sobat Arum's blog,,


Melanjutan postingan sebelumnya tentang makna, kesempatan kali ini akan membahas perbedaan makna 
 referensial dan makna nonreferensial.
Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu.
Apabila kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu diluar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata 
tersebut disebut kata bermakna referensial.Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen, maka kata itu 
 disebut kata bermakna nonreferensial. Kata-kata yang termasuk preposisi dan konjungsi, dan juga kata 
tugas lainya, tidak mempunyai referen, kata-kata tersebut hanya memiliki fungsi atau tugas.
Adanya kata-kata yang referenya tidak tetap dat berpindah rujukanya dari satu rujukan ke yang lain atau  
berubah ukurannya, contoh :
1. tadi dia duduk disini
            2. disini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi 
Pada kalimat pertama kata ‘disini’ menunjukan tepat tertentu yang sempit, mungkin sebuah bangku,atau hanya sepotong tempat kecil dari sebuah bangku. Pada kalimat kedua kata ‘disini’ merujuk pada daerah yang meliputi seluruh wilayah Indonesia.
 Bagaimana dengan referen kata ‘kaki’ misalnya pada frase kaki gunung dan kaki langit? Menurut Verhaar (1978) kata kaki pada frase itu diterapkan secara salah. Referen kata kaki tetap mengacu pada anggota tubuh manusia. Referen itu tidak berpindah dari manusia kepada gunung atau langit. Yang sebenarnya terjadi adalah kata kaki pada kedua frase tersebut digunakan secara metaforis, perbandingan. Kaki dari anggota tubuh manusia dengan bagian bawah dari gunung ata langit.

Makna Leksikal dan Makna Gramatikal


    Assalamualaikum sobat Arum's blog,,
       Masih berhubungan dengan Makna yang sebelumnya dibahas. Sebelumnya kita membahas makna denotatif dan makna konotatif. Sekarang kita bergeser ke makna Leksikal dan Gramatikal.
Leksikal adalah bentuka adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosakata, perbendaharaan kata). Satuan  dari leksikon adalah leksem , yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Makna lesikal bisa diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, bersifat kata atau bisa juga disebut makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan observasinya alat indra atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Umpamanya kata tikus  makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan penyakit tifus. Makna kata ini jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing, atau dalam kalimat Panen kali ini gagal akibat hama tikus. Kata tikus pada kedua kalimat jelas merujuk kepada binatang tikus bukan kepada yang lain. Teapi dalam kalimat Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam bukanlah termasuk makna gramatikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia yang perbuatanya memang mirip dengan perbuatan tikus.Bagaimana dengan kata kepala pada frase kepala kantor dan kepala paku ? disini kata kepala itu tidak bermakna leksikal, sebab tidak merujuk pada referen yang sebenarnya. Disini kata kepala digunakan digunakan secara metaforis yakni mempersamakan atau memperbandingkan salah satu ciri makna kata kepala dengan yang ada pada kata kantor dan kata paku. Apakah semua kata dalam bahasa Indonesia bermakna leksikal ? tentu saja tidak. Kata-kata yang dalam gramatika disebut kata penuh (full wod) seperti kata meja, tidur, dan cantik memang memiliki makna leksikal, tetapi yang disebut tuga (function word) seperti kata dan, dalam serta karena tidak memiliki makna leksikal. Dalam gramatika kata-kata tersebut dianggap hanya memiliki tugas gramatikal.

Makna gramatika adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afikasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses afikasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik melahirkan kata ‘dapat’ dan dalam kalimat ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatika ‘tidak sengaja’. Kepastian maknanya baru baru diperoleh setelah berada dalam konteks kalimat atau satuan sintaksis lain. Oleh karena itu makna gramatika ini disebut juga makna kontekstual atau makna situasional, selain itu bisa disebut juga makna structural karena proses dan satuan -satuan gramatikal itu selalu berkenaaan dengan struktur ketatabahasaan. Untuk menyatakan ‘jamak’ bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata ‘buku’ yang bermakna ‘sebuah buku’ menjadi ‘buku-buku’ yang berarti ‘banyak buku’, dalam bahasa inggris mengunakan morfem (s) misal nya ‘book’ yang menjadi ‘books’ , kata ‘woman’ yang bermakna seorang wanita menjadi ‘women’ yang bermakna ‘banyak wanita’. Contoh lain kata menyedihkan, menakutkan, dan mengalahkan memiliki makna gramatikal yang sama yaitu ‘membuat jadi yang disebut kata dasarnya’, tetapi kata memenangkan dan menggalakan tidak bermakna gramatikal sebab bukan bermakna ‘membuat jadi menang’ dan ‘membuat di giat’ melainkan bermakna ‘memperoleh kemenangan’ dan ‘menggiatkan’. Dalam proses komposis atau penggabungan melahirkan kata gramatika seperti dalam kata sate ayam dan  sate Madura, dari kedua kata tersebut sama-sama sate tetapi berbeda makna yaitu ‘asal bahan’ dan ‘asal tempat’.
 Terimakasih..
Semoga Bermanfaat bagi pembaca.,.

METODE BERBASIS PERTANYAAN PESERTA DIDIK (QUESTION STUDENT HAVE)



Assalamu'alaikum sobat Arum's blog,,
kembali lagi ke pembahasan model pembelajaran,,

Metode Berbasis Pertanyaan Peserta didik (Questions Student Have)  adalah pembelajaran yang menekankan pada peserta didik untuk aktif  dan menyatukan pendapat serta mengukur sejauh mana peserta didik memahami pelajaran melalui pertanyaan tertulisMetode ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan peserta didik sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Pertanyaan ini  bisa dalam bentuk soal atau masalah lain berhubungan dengan materi yang belum dipahaminya. Pada hakikatnya belajar adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu. Sedangkan menjawab pertanyaan menunjukkan kemampuan seseorang dalam berpikir.


2.   Tahapan Pelaksanaan
a.  Membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok (4-5 peserta didik setiap kelompok).
b. Mengadakan pre tes sebelum pembelajaran dimulai terkait dengan KD yang akan diajarkan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami KD yang akan dipelajari
c. Memberi penjelasan secara singkat langkah-langkah metode Questions Student Have  yang akan diterapkan sebagai berikut:
1)    Peserta didik diberi waktu 20 menit untuk membaca materi pembelajaran pada buku panduan atau sumber belajar yang telah disiapkan.
2)    Selanjutnya peserta didik diminta  untuk menuliskan pertanyaan dari materi yang belum dipahami dengan diberi waktu 5 menit pada blangko lembar pertanyaan yang telah disiapkan.
3)    Melalui aba-aba guru, masing-masing diminta untuk memberikan pertanyaan yang telah ditulis kepada teman dalam kelompoknya searah jarum jam untuk dibaca selanjutnya diberi tanda centang (Ö) jika pertanyaan tersebut juga ingin ditanyakan dan jika tidak diminta memberi tanda strip (-), diputar hingga blangko tersebut kembali kepada pemiliknya.
4)    Pemilik lembar pertanyaan diminta menghitung tanda centang yang ada pada blangkonya dan dihitung jumlah tanda centang yang diperoleh di samping kanan pertanyaan.
5)    Pertanyaan yang paling banyak mendapat tanda centang mendapat prioritas utama untuk dijawab. Cara yang dilakukan adalah peserta didik diminta mengacungkan tangan apabila guru menyebutkan jumlah-jumlah tertentu kemudian membacakan pertanyaannya.
6)    Peserta didik lain diminta mengidentifikasi kemungkinan ada pertanyaan yang sama dari yang dibacakan.
7)    Setelah pertanyaan dibacakan, maka kesempatan menjawab pertama diberikan kepada peserta didik yang tidak memberi tanda centang pada pertanyaan.
8)    Semua kertas pertanyaan dikumpulkan, karena kemungkinan ada pertanyaan yang perlu dijawab pada pertemuan berikutnya, sekaligus untuk direkapitulasi dan diidentifikasi serta dihitung kuantitas dan kualitas pertanyaan masing-masing peserta didik.
9)    Setelah selesai semua proses penerapan strategi pembelajaran dengan Questions Student Have, maka peserta didik diberi penilain pos tes untuk dua aspek, yaitu kognitif dan afektif.
d.      Untuk aspek kognitif, peserta diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal post test yang telah disiapkan.
e.       Sedangkan penilain afektif, peserta didik diminta menilai teman satu bangku tentang perilaku pelaksanaan shalat sunnah berjamaah dan munfarid selama satu minggu ke belakang dengan cara memberi tanda centang pada kolom yang tersedia terhadap pernyataan yang telah dibuat.

Makna Kata Denotatif dan Konotatif


Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Assalamualaikum sobat Arum's blog,,

      Hari ini sedikit berbeda dengan postingan sebelumnya, tetapi tidak jauh berbeda karena masih seputar bahasa. Makna adalah unsur dari sebuah kata atau tepatnya sebagai gejala dalam ujaran. Maka dari itu, ada prinsip umum dalam semantic yang menyatakan bahwa kalau bentuk( maksudnya bentuk kata atau makna kata). Pateda (1986), misalnya, secara alfabetis telah mendaftarkan adanya 25 jenis makna, yaitu makna afektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekstensi, mkna emotif, makna gereflekter, makna idesional, makna intensi, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna pictorial, makna proposional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna stilistika, dan makna tematis.


        Perbedaan makna denotatif dan konotatif adalah pada ada atau tidak adanya “nilai rasa” (Slametmulyana, 1964) pada sebuah kata. Setiap kata mempunyai makna denotatif, tetapi tidak setiap kata meiliki makna konotatif. Sebuah kata dsebut mempunyai makna konotatif apabila memiliki “nilai rasa” baik positif maupun negatif,. Jika tidak memiliki rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi atau dapat disebut juga berkonotasi netral. Makna denotatif (serng diseut juga makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain) pada dasarnya sama dengan referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi. Jadi makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi factual objektif, maka makna denotatif disebut juga ‘makna sebenarnya’. Misalnya kata perempuan dan wanita mempunya denoasi yang sama, yaitu ‘manusia dewasa bukan laki-laki’. Walaupun kedua kata tersebut mempunyai denotasi yang sama namun mempunya rasa yang berbeda, ‘perempuan’ mempunyai rasa yang rendah sedangkan kata ‘wanita’ mempunya rasa yang tinggi. Perubahan rasa ini terjadi akibat pandangan masyarakat berdasarkan norma-norma atau nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Umpamanya kata wanita dan perempuan mengandung makna-makna sebagai berikut :


Wanita

perempuan

-     Berpendidikan lebih

-     Modern dalam segala hal (pakaian, sikap, dsb)

-     Kurang berperasaan keibuan

-     Malas ke dapur

-   pendidikan kurang

-   kurang modern dalam segala hal

(pakaian, sikap, dsb)

-   berperasaan keibuan

-   rajin ke dapur


Makna konotasi lebih ke arah yang negative, makna konotasi sebuah kata dapat berbeda dari satu kelompok masyarakat yang satu dengan kolompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kolompok masyarakat tersebut. Umpamanya kata babi, di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama islam, memilikasi konotasi negatif karena binatang babi menurut hokum islam adalah haram dan najis. Sebaliknya di daerah-daerah yang yang penduduknya mayoritas bukan islam, seperti di pulau bali atau pedalaman irian jaya, kata babi tidak berkonotasi negatif. Lain halnya kata laki dan bini dalam masyarakat melayu Jakarta tidak berkonotasi negative, tetapi dalam masyarakat intelek kini berkonotasi negatif. Adapun kata-kata dalam bahasa Indonesia yang digunakan untuk menggantikan kata-kata yang berkonotasi negative, seperti pramuniaga, tunanetra, tunawisma, buang air, dan sebagainya.


Terima kasih dan Semoga Bermanfaat... 

Tuesday, December 20, 2016

Everyone Is a Teacher Here (Everyone can be a teacher)


Assalamua'alaikum sobat Arum's blog,,

Setiap Orang adalah Guru ini merupakan sebuah model strategi yang mudah memperoleh partisipasi kelas yang besar dan tanggung jawab individu. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai seorang ”pengajar” terhadap peserta didik lain.

Langkah-langkah:


1. Bagikan kartu indeks kepada setiap peserta didik. Mintalah para peserta menulis sebuah pertanyaan yang mereka miliki tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari di dalam kelas atau topik khusus yang akan mereka diskusikan di kelas. Contoh : guru menetapkan tugas bagi kelas untuk diskusi/membahas tentang "Describtive text.” dengan membagikan kartu indeks guru meminta peserta didik menulis sebuah pertanyaan tentang masalah seputar topik yang perlu dibahas. Pertanyaan tersebut dikumpulkan kepada guru, kemudian dibagikan lagi kepada siswa untuk direspons.
 
2. Kumpulkan kartu, kocok dan bagikan satu pada setiap siswa. Mintalah siswa membaca diam-diam pertanyaan atau topik pada kartu dan pikirkan satu jawaban.


3. Panggilah sukarelawan yang akan membaca dengan keras kartu yang mereka peroleh dan memberi jawaban.


4. Setelah diberi jawaban, mintalah siswa lain di dalam kelas untuk menambahkan apa yang telah disumbang sukarelawan.


5. Lanjutkan selama masih ada sukarelawan.


Variasi
1. Pegang kartu yang Anda kumpulkan, bentuklah sebuah panel responsden. Baca setiap kartu dan ajaklah diskusi. Putarlah anggota panel secara berkala.
2. Mintalah peserta didik menulis sebuah opini atau observasi yang mereka miliki pada kartu tentang materi pelajaran. Mintalah peserta lain setuju atau tidak dengan opini atau observasi tersebut.

Terimakasih sobat, Semoga Bermanfaat..

Monday, December 19, 2016

Model Pembelajaran Make A Macth

MAKE A MATCH

Assalamu'alaikum sobat Arum's blog...

Make a match (mencari pasangan) adalah metode pembelajaran dengan mencari pasangan melalui kartu  pertanyaan dan jawaban yang harus ditemukan dan didiskusikan oleh peserta didik.
Model ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994) dalam bukunya Language Arts and Cooperative Learning Lessons for The Little One.
Karakteristik
Inti dari metode tersebut bagaimana peserta didik dapat mencocokkan kartunya dalam waktu yang telah ditentukan.
Filosofi
Metode pembelajaran Make a match ini dapat melatih siswa untuk berani , percaya diri, menguasai materi, jeli dan memanfaatkan waktu secara efektif .

B.   Kegunaan
1.         Penguasaan dan pemahaman suatu konsep bisa lebih cepat
2.         Suasana menyenangkan
3.         Siswa belajar aktif
4.         Guru sebagai pembimbing/fasilitator
5.         Dapat mengidentifikasi permasalahan
6.         Meningkatkan antusiasme dalam pembelajaran
7.         Mengenal karakter siswa lain
8.         Mengembangkan kemampuan berpikir
9.         Memotivasi siswa untuk saling membantu
10.     Menumbuhkan rasa tanggung jawab
11.     Meningkatkan keterampilan sosial
12.     Melatih siswa menyelesaikan suatu masalah
13.     Mengembangkan bakat kepemimpinan
14.     Meningkatkan keterampilan berdiskusi
15.     Meningkatkan kreatifitas siswa
16.     Menghindari kejenuhan

C.    Tahapan Pelaksanaan
1.      Guru menyampaikan kompetensi siswa
  1. Guru menjelaskan tahapan kegiatan pembelajaran.
  2. Guru menjelaskan tahapan make a match.
  3. Guru menyuruh siswa untuk memahami teks bacaan terkait materi yang akan dipelajari.
  4. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  5. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
  6. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
  7. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama Asmaul Husna akan berpasangan dengan deskripsinya.
  8. Berhadapan dengan pasangan dan menjelaskan makna kartu kepada pasangan.
  9. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  10. Guru menunjuk pasangan untuk presentasi.
  11. Setiap pasangan mempresentasikan secara bergiliran hasil temuan mereka, sementara pasangan lain memperhatikan dan memberikan tanggapan dan koreksi.
  12. Siswa membuat kesimpulan dari hasil yang dipresentasikan.
  13. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
  14. Penguatan oleh guru
  15. Tugas
D.   Bahan yang Dipersiapkan
Dalam melaksanakan pembelajaran dengan metode ini diperlukan bahan-bahan sebagai berikut:
  • konsep/permasalahan terkait materi.
  • daftar pertanyaan terkait materi yang dibelajarkan
  • daftar jawaban untuk masing-masing pertanyaan
  • kartu konsep/pertanyaan
  • kertas plano
  • LCD/Laptop
  •  Puzzle
  • Timer

E.    Pokok Bahasan yang Sesuai
Model ini dapat digunakan dalam pembelajaran yang memiliki istilah-istilah yang banyak, hubungan sebab akibat, seperti dalam pembelajaran PAI pada materi:
  1. TENSES
  2. PASSIVE VOICE
  3. Teks Genre

F.    Kiat Sukses dalam Pelaksanaan
Variasi:
  • Penggunaan metode ini dapat divariasikan dengan metode lainnya, seperti inquiry, konstruktivisme, PBL atau yang lainnya. metode ini juga dapat digunakan sebagai penguatan atau pengayaan.
  • Kartu pasangan yang dibuat bisa berupa pasangan soal dengan jawaban, masalah dengan solusi, dan kosep teori dengan realita.
  • Kartu yang dipasangkan bisa berupa kalimat tanya dan jawaban, gambar, foto atau symbol.

Kiat Sukses:
·         Metode ini cocok untuk starter dalam mengembangkan materi pembelajran
·         Metode ini pun cocok untuk mereview materi
·         Instruksi yang diberkan guru harus jelas.
·         Timer terlihat bersama untuk menjaga komitmen waktu.
·         Isi dari pasangan kartu tidak menimbulkan makna ganada
·         Jika metode ini diterapkan dikelas gemuk maka harus ada komitmen di awal, seluruh siswa mencari pasangan tidak mengeluarkan suara.