Wednesday, January 4, 2017

Diglossia


Definition of Diglossia
Issues regarding bilingualism would feel intimately with the linguistic development of Indonesian society. This is because the Indonesian people use more than one language, which is their native language (vernacular) and the Indonesian language as the national language. The use of the local language as well as the use of the first language, while the use of Indonesian also known as the use of a second language. The use of language as it is referred to as diglossia (Aslinda, et al., 2007: 26).
  
The word comes from the French diglossie, once used by Marcais, a lingu France: but the term was made famous in the study sociolinguistic after being used by a swarjana from Stanford University, the C.A. Ferguson 1958 in a symposium on "Urbanization and standard languages" organized by the American Anthropological Association in Washington, DC. Ferguson then made even more famous the term with an article entitled " diglossia ". 

Ferguson used the term diglossia to declare a state of a society in which there are two variations of a language which coexist and each has a specific role. According to Ferguson's diglossia definition is:
1.     Diglossia is a relatively stable language situation, where in addition there are a number of major dialects of one language, there are also a variety of others.
2.    The main dialects of which, it could be a standard dialect, or a regional standard.
3.    Variety others it has the characteristics:
· Already codified
· More complex grammatical
· It is a vehicle for literary writing is very spacious and respected
· Learned through formal education
· Used mainly in written language and spoken language formal
· Not 
use in everyday conversation

Tafsiran Tentang Mengajar


Istilah mengajar dan belajar adalah dua peristiwa yang berbeda,akan tetapi antara keduanya  terdapat hubungan yang erat sekali dan terjadi kaitan interaksi satu sam lain.
 
Pengertian mengajar ini membahas 4 pendapat yang kita pandang sebagai pendapat yang lebih menonjol.

Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah teori pendidikan yang bersikap pada mata pelajaran yang disebut formal atau tradisional.Implikasi dari pengertian tersebut yaitu :
Pengajaran dipandang sebagai persiapan hidup.
Pengajaran adalah suatu proses penyampaian.
Penguasaan pengetahuan adalah tujuan utama.
Guru dianggep yang paling berkuasa.
Murid selalu bertindak sebagai penerima.

2. Menurut  umum mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah. Implikasi dari rumusan ini adalah sebagai berikut.

    a. Pendidikan bertujuan membentuk manusia berbudaya.
    b. Pengajaran berarti sesuatu proses pewarisan.
    c. Bahan pengaajaran bersumber dari kebudayaan.
    d. Siswa adalah generasi muda sebagai ahli waris.

3. Menurut  pendapat dari Mc.Donald mengajar adalah usaha   mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa yang bertujuan menghasilkan tingkah laku manusia.
Implikasi dari kedua rumusan tersebut ialah sebagi berikut :
Pendidikan bertujuan mengembangkan atau mengubah tingkah laku siswa.
Kegiatan pengajaran adalah dalam mengorganisasi lingkungan.
Siswa dipandang sebagai suatu organisme yang hidup.

4. Mengajar atau mendidik itu adalah memberikan bimbingan belajar kepada murid.Guru membantu mengatasi kesulitan-kesulitannya sendiri.Perannya adalah selaku counsellor.

5. Menurut Dr.keller mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.
Tujuan Pendidikan.
Pendidikan berlangsung dalam suasana kerja
Anak dipandang sebagai calon warga negara yang memiliki potensi untuk bekerja.
Guru sebagai pimpinan dan pembimbing bengkel kerja.

6.Mengajar adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari,pandangan ini menurut G.E Olsen. Implikasi dari perumusan ini adalah sebagai berikut

Tujuan pendidikan : mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakat.
Kegiatan pengajaran berlangsung dalam hubungan sekolah dan masyarakat.
Anak-anak bekerja secara aktif.
Tugas guru lainnya adalah sebagai komunikator.
 
Dari keenam kriteria tersebut kita dapat tarik kesimpulan bahwa kegiatan mengajar/mendidik itu memang sangat kompleks .

Tuesday, January 3, 2017

Sosisalinguistik, Bilingualisme, Alih Kode

1. Pengertian Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan erat. (Chaer dan Agustina, 2010:2). Hubungan sosiologi dan linguistik berkaitan satu sama lain, saling mempengaruhi. Pemakaian bahsa itu tentu di pengaruhi beberapa aspek seperti jumlah, sikap, adat istiadat dan budaya.

Menurut Fishman (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:3) Sociolinguistic is the study of characteristics of their functions and the characteristics of their speakers as these three constantly interact,change and change one another within a speech community (= Sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi variasi bahasa,dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah,dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat tutur.) Ada pula pendapat lain tentang sosiolinguistik yang berhubungan dengan sosial dan kebudayaan yaitu menurut Apple, Hubert, Meijer (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:4) sosiolinguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks sosial dan budaya.

Dari beberapa pendapat tersebut, pendapat yang digunakan untuk penelitian Alih Kode dan Campur Kode dalam FKIP Universitas Islam Kadiri Kadiri adalah pendapat dari Abdul Chaer & Leonie Agustina serta pendapat Fishman. Karena pendapat keduanyamenjelaskan bahwa bahasa itu memiliki hubungan dengan faktor-faktor sosial.

2. Bilingualisme
Istilah bilingualisme ( Inggris: Bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan.Secara sosiolinguistik, secara umum  bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian menurut Mackey dan Fishman (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:84).

Bilingualisme adalah kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya menurut Lado (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:86)

3. Alih Kode
Appel (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:106) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan bahasa karena berubahnya situasi. Berbeda dengan Hymes (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:86) menyatakan alih kode itu terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa.

Kalau di telusuri penyebab terjadinya alih kode itu, maka harus kita kembalikan kepada pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang dikemuakakan Fishman dalam (kutipan Chaer dan Agustina, 2010:108) yaitu “siapa berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan, dengan tujuan apa”. Secara umunpenyebab alih kode itu disebutkan antara lain adalah (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan formal ke informal atau sebaliknya, (5) perubahan topic pembicaraan.


Thursday, December 22, 2016

Makna Referensial dan Makna Nonreferensial

Assalamualaikum sobat Arum's blog,,


Melanjutan postingan sebelumnya tentang makna, kesempatan kali ini akan membahas perbedaan makna 
 referensial dan makna nonreferensial.
Perbedaan makna referensial dan makna nonreferensial berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu.
Apabila kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu diluar bahasa yang diacu oleh kata itu, maka kata 
tersebut disebut kata bermakna referensial.Kalau kata-kata itu tidak mempunyai referen, maka kata itu 
 disebut kata bermakna nonreferensial. Kata-kata yang termasuk preposisi dan konjungsi, dan juga kata 
tugas lainya, tidak mempunyai referen, kata-kata tersebut hanya memiliki fungsi atau tugas.
Adanya kata-kata yang referenya tidak tetap dat berpindah rujukanya dari satu rujukan ke yang lain atau  
berubah ukurannya, contoh :
1. tadi dia duduk disini
            2. disini, di Indonesia, hal seperti itu sering terjadi 
Pada kalimat pertama kata ‘disini’ menunjukan tepat tertentu yang sempit, mungkin sebuah bangku,atau hanya sepotong tempat kecil dari sebuah bangku. Pada kalimat kedua kata ‘disini’ merujuk pada daerah yang meliputi seluruh wilayah Indonesia.
 Bagaimana dengan referen kata ‘kaki’ misalnya pada frase kaki gunung dan kaki langit? Menurut Verhaar (1978) kata kaki pada frase itu diterapkan secara salah. Referen kata kaki tetap mengacu pada anggota tubuh manusia. Referen itu tidak berpindah dari manusia kepada gunung atau langit. Yang sebenarnya terjadi adalah kata kaki pada kedua frase tersebut digunakan secara metaforis, perbandingan. Kaki dari anggota tubuh manusia dengan bagian bawah dari gunung ata langit.

Makna Leksikal dan Makna Gramatikal


    Assalamualaikum sobat Arum's blog,,
       Masih berhubungan dengan Makna yang sebelumnya dibahas. Sebelumnya kita membahas makna denotatif dan makna konotatif. Sekarang kita bergeser ke makna Leksikal dan Gramatikal.
Leksikal adalah bentuka adjektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon (vokabuler, kosakata, perbendaharaan kata). Satuan  dari leksikon adalah leksem , yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Makna lesikal bisa diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, bersifat kata atau bisa juga disebut makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan observasinya alat indra atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Umpamanya kata tikus  makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan penyakit tifus. Makna kata ini jelas dalam kalimat Tikus itu mati diterkam kucing, atau dalam kalimat Panen kali ini gagal akibat hama tikus. Kata tikus pada kedua kalimat jelas merujuk kepada binatang tikus bukan kepada yang lain. Teapi dalam kalimat Yang menjadi tikus di gudang kami ternyata berkepala hitam bukanlah termasuk makna gramatikal karena tidak merujuk kepada binatang tikus melainkan kepada seorang manusia yang perbuatanya memang mirip dengan perbuatan tikus.Bagaimana dengan kata kepala pada frase kepala kantor dan kepala paku ? disini kata kepala itu tidak bermakna leksikal, sebab tidak merujuk pada referen yang sebenarnya. Disini kata kepala digunakan digunakan secara metaforis yakni mempersamakan atau memperbandingkan salah satu ciri makna kata kepala dengan yang ada pada kata kantor dan kata paku. Apakah semua kata dalam bahasa Indonesia bermakna leksikal ? tentu saja tidak. Kata-kata yang dalam gramatika disebut kata penuh (full wod) seperti kata meja, tidur, dan cantik memang memiliki makna leksikal, tetapi yang disebut tuga (function word) seperti kata dan, dalam serta karena tidak memiliki makna leksikal. Dalam gramatika kata-kata tersebut dianggap hanya memiliki tugas gramatikal.

Makna gramatika adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatika seperti proses afikasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses afikasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat Batu seberat itu terangkat juga oleh adik melahirkan kata ‘dapat’ dan dalam kalimat ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas melahirkan makna gramatika ‘tidak sengaja’. Kepastian maknanya baru baru diperoleh setelah berada dalam konteks kalimat atau satuan sintaksis lain. Oleh karena itu makna gramatika ini disebut juga makna kontekstual atau makna situasional, selain itu bisa disebut juga makna structural karena proses dan satuan -satuan gramatikal itu selalu berkenaaan dengan struktur ketatabahasaan. Untuk menyatakan ‘jamak’ bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata ‘buku’ yang bermakna ‘sebuah buku’ menjadi ‘buku-buku’ yang berarti ‘banyak buku’, dalam bahasa inggris mengunakan morfem (s) misal nya ‘book’ yang menjadi ‘books’ , kata ‘woman’ yang bermakna seorang wanita menjadi ‘women’ yang bermakna ‘banyak wanita’. Contoh lain kata menyedihkan, menakutkan, dan mengalahkan memiliki makna gramatikal yang sama yaitu ‘membuat jadi yang disebut kata dasarnya’, tetapi kata memenangkan dan menggalakan tidak bermakna gramatikal sebab bukan bermakna ‘membuat jadi menang’ dan ‘membuat di giat’ melainkan bermakna ‘memperoleh kemenangan’ dan ‘menggiatkan’. Dalam proses komposis atau penggabungan melahirkan kata gramatika seperti dalam kata sate ayam dan  sate Madura, dari kedua kata tersebut sama-sama sate tetapi berbeda makna yaitu ‘asal bahan’ dan ‘asal tempat’.
 Terimakasih..
Semoga Bermanfaat bagi pembaca.,.

METODE BERBASIS PERTANYAAN PESERTA DIDIK (QUESTION STUDENT HAVE)



Assalamu'alaikum sobat Arum's blog,,
kembali lagi ke pembahasan model pembelajaran,,

Metode Berbasis Pertanyaan Peserta didik (Questions Student Have)  adalah pembelajaran yang menekankan pada peserta didik untuk aktif  dan menyatukan pendapat serta mengukur sejauh mana peserta didik memahami pelajaran melalui pertanyaan tertulisMetode ini digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan peserta didik sebagai dasar untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Pertanyaan ini  bisa dalam bentuk soal atau masalah lain berhubungan dengan materi yang belum dipahaminya. Pada hakikatnya belajar adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu. Sedangkan menjawab pertanyaan menunjukkan kemampuan seseorang dalam berpikir.


2.   Tahapan Pelaksanaan
a.  Membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok (4-5 peserta didik setiap kelompok).
b. Mengadakan pre tes sebelum pembelajaran dimulai terkait dengan KD yang akan diajarkan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami KD yang akan dipelajari
c. Memberi penjelasan secara singkat langkah-langkah metode Questions Student Have  yang akan diterapkan sebagai berikut:
1)    Peserta didik diberi waktu 20 menit untuk membaca materi pembelajaran pada buku panduan atau sumber belajar yang telah disiapkan.
2)    Selanjutnya peserta didik diminta  untuk menuliskan pertanyaan dari materi yang belum dipahami dengan diberi waktu 5 menit pada blangko lembar pertanyaan yang telah disiapkan.
3)    Melalui aba-aba guru, masing-masing diminta untuk memberikan pertanyaan yang telah ditulis kepada teman dalam kelompoknya searah jarum jam untuk dibaca selanjutnya diberi tanda centang (Ö) jika pertanyaan tersebut juga ingin ditanyakan dan jika tidak diminta memberi tanda strip (-), diputar hingga blangko tersebut kembali kepada pemiliknya.
4)    Pemilik lembar pertanyaan diminta menghitung tanda centang yang ada pada blangkonya dan dihitung jumlah tanda centang yang diperoleh di samping kanan pertanyaan.
5)    Pertanyaan yang paling banyak mendapat tanda centang mendapat prioritas utama untuk dijawab. Cara yang dilakukan adalah peserta didik diminta mengacungkan tangan apabila guru menyebutkan jumlah-jumlah tertentu kemudian membacakan pertanyaannya.
6)    Peserta didik lain diminta mengidentifikasi kemungkinan ada pertanyaan yang sama dari yang dibacakan.
7)    Setelah pertanyaan dibacakan, maka kesempatan menjawab pertama diberikan kepada peserta didik yang tidak memberi tanda centang pada pertanyaan.
8)    Semua kertas pertanyaan dikumpulkan, karena kemungkinan ada pertanyaan yang perlu dijawab pada pertemuan berikutnya, sekaligus untuk direkapitulasi dan diidentifikasi serta dihitung kuantitas dan kualitas pertanyaan masing-masing peserta didik.
9)    Setelah selesai semua proses penerapan strategi pembelajaran dengan Questions Student Have, maka peserta didik diberi penilain pos tes untuk dua aspek, yaitu kognitif dan afektif.
d.      Untuk aspek kognitif, peserta diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal post test yang telah disiapkan.
e.       Sedangkan penilain afektif, peserta didik diminta menilai teman satu bangku tentang perilaku pelaksanaan shalat sunnah berjamaah dan munfarid selama satu minggu ke belakang dengan cara memberi tanda centang pada kolom yang tersedia terhadap pernyataan yang telah dibuat.

Makna Kata Denotatif dan Konotatif


Makna Denotatif dan Makna Konotatif

Assalamualaikum sobat Arum's blog,,

      Hari ini sedikit berbeda dengan postingan sebelumnya, tetapi tidak jauh berbeda karena masih seputar bahasa. Makna adalah unsur dari sebuah kata atau tepatnya sebagai gejala dalam ujaran. Maka dari itu, ada prinsip umum dalam semantic yang menyatakan bahwa kalau bentuk( maksudnya bentuk kata atau makna kata). Pateda (1986), misalnya, secara alfabetis telah mendaftarkan adanya 25 jenis makna, yaitu makna afektif, makna denotatif, makna deskriptif, makna ekstensi, mkna emotif, makna gereflekter, makna idesional, makna intensi, makna gramatikal, makna kiasan, makna kognitif, makna kolokasi, makna konotatif, makna konseptual, makna konstruksi, makna leksikal, makna luas, makna pictorial, makna proposional, makna pusat, makna referensial, makna sempit, makna stilistika, dan makna tematis.


        Perbedaan makna denotatif dan konotatif adalah pada ada atau tidak adanya “nilai rasa” (Slametmulyana, 1964) pada sebuah kata. Setiap kata mempunyai makna denotatif, tetapi tidak setiap kata meiliki makna konotatif. Sebuah kata dsebut mempunyai makna konotatif apabila memiliki “nilai rasa” baik positif maupun negatif,. Jika tidak memiliki rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi atau dapat disebut juga berkonotasi netral. Makna denotatif (serng diseut juga makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif karena dilihat dari sudut yang lain) pada dasarnya sama dengan referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi. Jadi makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi factual objektif, maka makna denotatif disebut juga ‘makna sebenarnya’. Misalnya kata perempuan dan wanita mempunya denoasi yang sama, yaitu ‘manusia dewasa bukan laki-laki’. Walaupun kedua kata tersebut mempunyai denotasi yang sama namun mempunya rasa yang berbeda, ‘perempuan’ mempunyai rasa yang rendah sedangkan kata ‘wanita’ mempunya rasa yang tinggi. Perubahan rasa ini terjadi akibat pandangan masyarakat berdasarkan norma-norma atau nilai-nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Umpamanya kata wanita dan perempuan mengandung makna-makna sebagai berikut :


Wanita

perempuan

-     Berpendidikan lebih

-     Modern dalam segala hal (pakaian, sikap, dsb)

-     Kurang berperasaan keibuan

-     Malas ke dapur

-   pendidikan kurang

-   kurang modern dalam segala hal

(pakaian, sikap, dsb)

-   berperasaan keibuan

-   rajin ke dapur


Makna konotasi lebih ke arah yang negative, makna konotasi sebuah kata dapat berbeda dari satu kelompok masyarakat yang satu dengan kolompok masyarakat yang lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kolompok masyarakat tersebut. Umpamanya kata babi, di daerah-daerah yang penduduknya mayoritas beragama islam, memilikasi konotasi negatif karena binatang babi menurut hokum islam adalah haram dan najis. Sebaliknya di daerah-daerah yang yang penduduknya mayoritas bukan islam, seperti di pulau bali atau pedalaman irian jaya, kata babi tidak berkonotasi negatif. Lain halnya kata laki dan bini dalam masyarakat melayu Jakarta tidak berkonotasi negative, tetapi dalam masyarakat intelek kini berkonotasi negatif. Adapun kata-kata dalam bahasa Indonesia yang digunakan untuk menggantikan kata-kata yang berkonotasi negative, seperti pramuniaga, tunanetra, tunawisma, buang air, dan sebagainya.


Terima kasih dan Semoga Bermanfaat...